Maradona Hardik Petugas Imigrasi

Written By Unknown on Minggu, 30 Juni 2013 | 12.03

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Kedatangan legendaris sepak bola dunia, Diego Armando Maradona (52) ke Indonesia, justru memunculkan banyak kekecewaan.

Pemain asal Argentina itu ngambek, sehingga panitia terpaksa membatalkan sejumlah acara. Padahal, untuk bisa mengikuti kegiatan  itu, peserta harus membayar jutaan rupiah

Tak hanya ngambek, pesepak bola yang berjuluk 'si tangan Tuhan' itu juga mengancam segera meninggalkan Indonesia. Penyebabnya, menurut Ketua Badan Sepakbola Rakyat Indonesia (BASRI) yang juga ketua promotor kedatangan Maradona, Eddy Sofyan, beredar rumor Maradona dijadikan alat politik di daerah yang akan dikunjunginya.

Berdasar agenda, Maradona akan mengunjungi Jakarta, Surabaya (Jatim), Medan (Sumut) dan Makassar (Sulsel).

Namun, acara di Medan dan Makassar dibatalkan secara mendadak. Rumornya, pembatalan di Medan karena ketidaksiapan panitia. Sementara di Makassar karena beberapa hari lalu ada media lokal yang memasang foto salah seorang calon wali kota bersama Maradona.

"Maradona mendapat kabar itu. Dia sangat tidak suka, bahkan mengancam meninggalkan Indonesia jika rumor itu benar. Dia mengatakan datang ke sini sebagai pemain sepak bola bukan sebagai ikon untuk misi politik. Tidak ingin kedatangannya ke Indonesia untuk kepentingan  politik," tegas Eddy.

Dia membantah panitia ikut memolitisasi kedatangan Maradona. "Kami hati-hati dalam bertindak. Kuasa hukumnya sudah memperingatkan saya mengenai hal ini. Maradona pernah memenangi gugatan di Cina sebesar 500 ribu dolar AS karena fotonya digunakan untuk game online," ucap dia.

Kemarahan Maradona sudah terlihat saat  tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu pagi. Dia sempat menolak bahkan menghardik seorang petugas Ditjen Imigrasi yang mengajaknya bersalaman. "Don't touch me (jangan sentuh saya)," tegasnya.

Maradona yang didampingi dua perempuan itu juga menolak menaiki mobil yang disediakan Kedubes Argentina. Dia baru mau masuk ke mobil Toyota Alphard yang disediakan panitia. Namun, begitu masuk dia secara kasar menutupi pintu mobil.

Tak hanya itu, dia pun menolak mengikuti acara sesuai jadwal. Maradona batal tampil di salah satu stasiun televisi untuk mengikuti siaran langsung suatu acara. Jumpa pers di Djakarta XXI, Jakarta juga dibatalkan. Maradona memilih beristirahat di hotel.

Sorenya, meski sudah datang ke Stadion Utama Gelora Bung Karno, dia kembali berulah.

Di sana, dia tidak bersedia memimpin coaching clinic dan tango football kepada ribuan  peserta yang kesemuanya anak-anak. Maradona yang saat itu mengenakan kemeja biru tua dipadu jeans dan sepatu kets hanya melihat dan berpidato.

"Saya mulai bermain sepak bola seumuran kalian. Tidak ada cara instan untuk menjadi pemain andal. Dibutuhkan kerja keras. Setiap latihan, kalian harus menjadi lebih baik lagi. Tanamkan di dalam hati, sikap jangan mau kalah. Terpenting terus bekerja keras setiap hari. Saya ingin memberi peluk untuk kalian semua," ujar Maradona kemudian menendang dan menyundul beberapa bola yang sudah ditandatanganinya ke lapangan. Setelah itu dia kembali ke hotel.

Sikap itu memunculkan kekecewaan para peserta, apalagi mereka harus membayar minimal Rp 1 juta. "Saya sangat kecewa. Kekecewaan saya tidak seberapa, tapi anak saya sangat kecewa. Kami jauh-jauh datang dari Manado (Sulut), acara dibatalkan tanpa pemberitahuansebelumnya. Maradona hanya memberi sambutan, tidak memberi coaching clinic," ucap seorang perempuan, Eva Cindy yang anaknya bernama Sebastian terdaftar sebagai peserta.

Maradona tiba di Indonesia pada Sabtu pagi. "Ia lelah dan jetlag. Wajar saja, ia baru menempuh perjalanan udara dalam waktu yang lama. Setiba di bandara, dia emosi karena ada  seseorang yang memegang tangannya. Untuk meredakan emosinya, saya ajak  ke salah satu ruangan di bandara untuk sekadar minum. Syukurlah, emosinya turun dan minta langsung ke hotel. Kita tahu Maradona. Ia pemain besar dan cukup emosional," tegas Eddy.

Mahal

Berdasar informasi yang diperoleh BPost, biaya mendatangkan Maradona mencapai Rp 12 miliar. Mayoritas biaya ditanggung BASRI dan sisanya ditanggung Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) yang diketuai Isran Noor.

Kondisi itu berimbas pada biaya bagi masyarakat untuk bisa mengikuti acara yang diikuti Maradona. Pada seminar misalnya, setiap peserta wajib membayar Rp 5 juta. Kompensasinya mendapat sertifikat yang ditandangani Maradona.

Anak-anak berusia 8-15 tahun bisa mengikuti coaching clinic dengan biaya minimal Rp  1 juta per orang. Anak dengan rentang usia yang sama juga bisa mengikuti tango football atau menggiring bola bersama Maradona dengan membayar minimal Rp 250 ribu. Sedangkan untuk galadinner yang dibatasi 250 orang, penggemar harus membayar Rp 10 juta.

"Jangan dilihat dari nilai harganya, namun sumbangsih dan manfaat yang akan diberikan Maradona bagi perkembangan sepak bola Indonesia. Hal tersebut, dipastikan lebih tidak bernilai lagi. Seperti pesan dari Maradona misalnya untuk anak-anak. Pesan itu akan tertanam di pikiran mereka hingga dewasa," ucap Eddy.

Selama ini, setiap coaching clinic yang mendatangkan pesepak bola, mantan pesepak bola atau pelatih sepak bola, memang hanya bisa diikuti para bocah dari kalangan  berduit.

Tak heran, setiap coaching clinic dilakukan, banyak anak dari keluarga tidak mampu, hanya bisa melihat dari balik pagar kawat. (tribunnews/deo/coz)

Mahalnya Sang Legenda
- Biaya mendatangkan: Rp 12 miliar
- Tarif seminar (dibatasi 200 peserta): Rp 5 juta
- Tarif coaching clinic (anak-anak): mininal Rp 1 juta
- Tarif tango football (anak-anak): minimal Rp 250 juta
- Tarif makan malam bersama (dibatasi 250 peserta): Rp 10 juta


Anda sedang membaca artikel tentang

Maradona Hardik Petugas Imigrasi

Dengan url

http://banjarberita.blogspot.com/2013/06/maradona-hardik-petugas-imigrasi.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Maradona Hardik Petugas Imigrasi

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Maradona Hardik Petugas Imigrasi

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger